Kamis, 09 Juni 2011

~ Ah..Teori....~

~ Ah..Teori....~

Suatu hari saya mendapat hantaman keras..laksana gada yang terayun tepat mengenai kepala saya..seseorang mengatakan saya terlalu suka berteori..."Ah Teori...."

Hmmm....tapi kata-kata bernada sinis itu bagi saya ada benarnya juga....saya memang menyukai berteori terhadap apa pun yang saya alami atau apa pun yang terjadi. Karena saya terbiasa baru dapat berhenti setelah dapat menyusun beberapa alternatif jawaban tentang "MENGAPA" terhadap apa pun yang terjadi maupun apa pun yang saya alami. Agak merepotkan diri memang, karena dalam proses menjawab itulah saya memerlukan diri dapat keluar dari diri saya dan berusaha memandang permasalahan atau kejadian seobjektif mungkin dari berbagai sudut pandang yang berbeda, termasuk didalamnya berusaha melihat dari sisi individu-individu yang terlibat dalam kejadian atau peristiwa tersebut. Dalam proses itu, saya benar-benar harus melepaskan diri saya dan berusaha menempatkan diri seandainya saya adalah pribadi *A*, memiliki sifat seperti *A*, dalam posisi seperti *A*, mempunyai konsep diri laksana *A* dan lain sebagainya.

Disitulah letak peran *teori* diperlukan. Bagi saya teori yang berupa pernyataan atau argumentasi tentang kejadian atau fenomena yang berusaha menjelaskan sebuah peristiwa atau proses dari berbagai kejadian yang diharapkan mampu dikembangkan sebagai generalisasi yang tetap dan benar di berbagai situasi dan sepanjang waktu tersebut sedikit banyak mampu membuat saya memahami dengan lebih baik suatu hal atau kejadian secara lebih objektif. Bagi saya teori adalah sebuah inti dari sebuah pengetahuan. Bahkan tanpa kita sadari dalam hidup ini kita kerap kali berteori tentang suatu hal atau peristiwa.

Misalnya saja terhadap sebuah peristiwa yang booming....tentang *A* berdasarkan teori nilai ekspektasi atau expectancy value theory hasil pemikiran Martin Fisbein » sikap terhadap objek *A* merupakan hasil akumulasi dari kekuatan keyakinan *D* (:sebut saja begitu) tentang *A* dengan aspek evaluatif terhadap *B* (evaluasi tentang suatu konsep) dikalikan jumlah kepercayaan tentang *A*. Namun dalam mengkaji sebuah peristiwa atau kejadian, saya meyakini tidak bisa didekati dengan satu teori saja....misalnya jika itu terkait dengan kebohongan maka berdasarkan teori Kebohongan Interpersonal (Interpersonal Deception Theory) buah pikir David Buller dan Judee Burgoon dikenal adanya BIAS KEBENARAN (:TRUTH BIAS) dimana ketika kita memiliki sebuah hubungan dekat, kita kurang cenderung dapat melihat kebohongan sebab kita tidak berharap bahkan berharap tidak melihat sebuah kebohongan hingga membuat kita tidak benar-benar memperhatikan pada isyarat kebohongan perilaku dari orang yang kita anggap dekat dan *BIAS KEBENARAN* cenderung menonjolkan kecurigaan kita pada orang yang tidak dekat dengan kita dan membuat kita berpikir bahwa orang lain sedang berbohong padahal sebenarnya tidak. Terakhir saya suka mencari peneguhan jawaban dari buku yang merupakan "induk dari keseluruhan teori" misalnya tentang berteori kebohongan tadi saya mendapat peneguhan bahwa orang yang berjanji tapi mungkir, kalau dipercayai berkhianat memiliki kecenderungan kalau berkata bohong (berdasarkan surat ke-59 ayat 11).

Pendek kata, bagi saya teori itu indah dan cantik serta membuat saya dapat melihat sesuatu hal atau peristiwa dengan lebih mudah dan lebih obyektif lagi....namun sekali lagi itu menurut saya....entah bagaimana menurut *A*nda....

Tidak ada komentar: